Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Info Desa » Hampir Setahun Pascabencana, Irigasi Cot Kupok Aceh Utara Belum Berfungsi, 90 Persen Warga Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Hampir Setahun Pascabencana, Irigasi Cot Kupok Aceh Utara Belum Berfungsi, 90 Persen Warga Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

  • account_circle Muliadi
  • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
  • visibility 131
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ACEH UTARA, Gema Samudra – Hampir setahun pascabencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Aceh Utara, jaringan irigasi di Gampong Cot Kupok, Kecamatan Baktiya Barat, hingga kini belum berfungsi optimal. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sektor pertanian dan mengancam sumber penghidupan sekitar 90 persen warga yang menggantungkan ekonomi keluarga pada persawahan.

Kerusakan jaringan irigasi yang belum tertangani secara optimal menyebabkan pasokan air ke lahan pertanian tidak memadai. Akibatnya, sejumlah persawahan warga mengalami kekeringan, bahkan tanahnya terlihat mengering dan retak sehingga menyulitkan petani untuk kembali mengolah lahan.

Bagi masyarakat Cot Kupok, persoalan irigasi bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan menyangkut keberlangsungan ekonomi keluarga. Sebagian besar warga selama ini mengandalkan hasil pertanian sebagai sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Geuchik Gampong Cot Kupok, Syafie, S.Ag., mengatakan kondisi irigasi yang belum pulih telah menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan.

“Persawahan adalah urat nadi kehidupan kami. Jika irigasi tidak segera diperbaiki, perekonomian masyarakat terancam lumpuh,” ujar Syafie. Senin, 19 Oktober 2026.

Menurutnya, masyarakat sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait untuk meninjau langsung kondisi jaringan irigasi di wilayah tersebut. Peninjauan diperlukan guna memastikan tingkat kerusakan serta menentukan langkah perbaikan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Hampir setahun setelah bencana, belum optimalnya fungsi irigasi membuat petani menghadapi ketidakpastian dalam melanjutkan kegiatan pertanian. Tanpa ketersediaan air yang cukup, pengolahan lahan dan penanaman padi berisiko terhambat.

Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat secara luas. Ketika sawah tidak dapat diolah, pendapatan rumah tangga berkurang, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Masyarakat Cot Kupok berharap pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui instansi teknis terkait, serta pihak yang memiliki kewenangan atas jaringan irigasi tersebut, segera melakukan pemeriksaan dan mengambil langkah penanganan yang terukur.

Warga juga mengharapkan adanya kejelasan mengenai rencana perbaikan, penanggung jawab penanganan, serta waktu pelaksanaan pekerjaan agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai pemulihan pengairan.

Bagi masyarakat Cot Kupok, pemulihan pascabencana belum sepenuhnya dirasakan selama jaringan irigasi yang menjadi penopang pertanian belum kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Karena itu, penyelesaian persoalan irigasi diharapkan menjadi salah satu prioritas penanganan pascabencana, terutama untuk menjaga keberlangsungan mata pencaharian warga yang bergantung pada sektor pertanian.

Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan, tetapi juga menindaklanjutinya dengan langkah konkret sesuai kewenangan, kebutuhan teknis, dan tingkat kerusakan jaringan irigasi.

Warga Cot Kupok kini menanti perhatian dan tindakan nyata agar air kembali mengalir ke persawahan, petani dapat kembali menanam padi, serta roda perekonomian gampong perlahan pulih.

Bagi mereka, berfungsinya kembali irigasi bukan sekadar harapan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mempertahankan sumber penghidupan keluarga setelah bencana.

  • Penulis: Muliadi
expand_less