Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Sosial » Daerah » Seba serbi » Poh Kipah Tangkulok Pasee Meriahkan Milad 800 Tahun Samudra Pasai, Ribuan Warga Terpukau

Poh Kipah Tangkulok Pasee Meriahkan Milad 800 Tahun Samudra Pasai, Ribuan Warga Terpukau

  • account_circle Muliadi
  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 35
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ACEH UTARA, GSNnews.com – Kesenian tradisional Poh Kipah yang dibawakan Grup Seni Tangkulok Pasee sukses memukau ribuan pengunjung dalam rangkaian peringatan 800 tahun Kerajaan Samudra Pasai di Landeng, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa malam (8/9/2026).

 

Pertunjukan berlangsung meriah. Tepuk tangan penonton berpadu dengan ketukan ritmis pelepah pinang yang menjadi ciri khas kesenian Poh Kipah.

 

Di atas panggung utama, para penari menampilkan gerakan energik yang diiringi tepukan situek pelepah pinang. Lantunan syair salawat dan pesan-pesan keagamaan turut menghidupkan suasana sekaligus memperlihatkan kekayaan seni tradisional masyarakat Aceh Utara.

 

Poh Kipah atau Dikee Poh Kipah merupakan kesenian tradisional yang berkembang di tengah masyarakat Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara. Kesenian tersebut berawal dari tradisi masyarakat ketika berlatih zikir dan maulid Nabi, dengan pelepah pinang digunakan sebagai instrumen pengiring syair.

 

Di balik penampilan yang memukau tersebut terdapat perjalanan panjang Grup Seni Tangkulok Pasee dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional.

 

Pimpinan Tangkulok Pasee, Syekh Yusran Yus, mengatakan dirinya telah ikut mempertahankan seni Poh Kipah sejak 2002. Pada masa tersebut, Aceh masih berada dalam situasi konflik bersenjata.

 

Yusran mengaku mempelajari kesenian tersebut langsung dari pamannya, Syekh Awahab Syah.

 

“Saya dulu dilatih langsung oleh paman saya, Syekh Awahab Syah. Selama ini saya berjuang dan merawat seni budaya ini secara mandiri agar khazanah asli kebanggaan masyarakat Pasee tidak hilang digerus waktu,” ujar Yusran.

 

Menurutnya, mempertahankan kesenian tradisional membutuhkan komitmen berkelanjutan, terutama dari generasi muda agar warisan budaya masyarakat Pasee tetap dikenal dan dipelajari.

 

Penampilan Tangkulok Pasee dalam peringatan 800 tahun Samudra Pasai tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali melihat masa depan pelestarian budaya lokal di Aceh Utara.

 

Panggung pertunjukan dinilai penting sebagai ruang bagi seniman untuk memperkenalkan kesenian tradisional. Namun, keberlanjutan seni budaya membutuhkan dukungan yang lebih konsisten melalui pembinaan, regenerasi seniman, dokumentasi, serta ruang pertunjukan yang berkelanjutan.

 

Peringatan 800 tahun Samudra Pasai diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum memperkuat identitas budaya masyarakat Aceh Utara.

 

Kesenian Poh Kipah yang masih dipertahankan oleh kelompok seperti Tangkulok Pasee menunjukkan bahwa warisan budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

 

Karena itu, pelestarian seni tradisional membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, komunitas seni, masyarakat dan generasi muda agar kesenian khas bumi Pasee tidak sekadar tampil dalam acara tertentu, tetapi terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

  • Penulis: Muliadi
expand_less