Kisah Pilu Seorang Oknum Geuchik di Aceh Utara, Jabatan Lepas Setelah Skandal Perselingkuhan Terungkap
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
- visibility 96
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LHOKSUKON, GSN.COM – Di Malam yang sunyi di sebuah sudut gampong di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, biasanya hanya diisi suara jangkrik dan angin yang berhembus di halaman rumah warga. Namun beberapa hari lalu, suasana sunyi itu berubah menjadi kisah pahit yang kini menyelimuti hati masyarakat di Gampong Teungoh Kuta Bate.
Di balik gelap nya malam, sebuah peristiwa yang disebut warga sebagai “prahara rumah tangga yang paling memalukan dalam sejarah desa” mendadak mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap sosok pemimpin yang selama ini mereka hormati.
Seorang oknum Geuchik berinisial Y diduga digerebek saat berada di rumah seorang wanita yang diketahui merupakan istri anggota Tuha Peut desa setempat. Dugaan hubungan terlarang itu sontak menyebar dari mulut ke mulut, memantik kemarahan, rasa kecewa, hingga kesedihan mendalam di tengah masyarakat.
Menurut keterangan sejumlah warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, malam itu berlangsung penuh ketegangan. Sang suami disebut memergoki langsung keberadaan oknum Geuchik di dalam rumahnya sendiri.
“Waktu digerebek, dia langsung lari lewat pintu belakang,” ujar seorang warga dengan nada lirih, Kamis (14/5/2026).
Kisah tersebut bukan sekadar isu perselingkuhan biasa bagi masyarakat desa. Di mata warga, peristiwa itu menjadi luka sosial yang sulit diterima karena melibatkan seorang pemimpin gampong yang selama ini dipercaya menjaga marwah adat dan kehormatan masyarakat.
Desas-desus berkembang cepat. Warung kopi, sudut meunasah, hingga perbincangan warga selepas salat dipenuhi pembahasan tentang malam yang mengubah segalanya itu.
Tak sedikit warga mengaku kecewa karena figur pemimpin yang seharusnya menjadi panutan justru terseret dalam persoalan yang dianggap mencoreng nilai adat dan agama di Aceh.
Di tengah tekanan moral dan sorotan masyarakat, sang Geuchik akhirnya mengambil keputusan yang disebut warga sebagai “jalan terakhir untuk menyelamatkan kehormatan keluarga”.
Dalam sebuah musyawarah desa yang dihadiri perangkat gampong dan tokoh masyarakat, ia secara resmi menyerahkan surat pengunduran diri dari jabatannya sebagai Geuchik.
Langkah itu disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kesalahan yang terjadi.
“Ini sudah jadi aib besar bagi saya dan keluarga,” ungkapnya saat dikonfirmasi awak media.
Dengan suara pelan dan penuh penyesalan, ia mengakui kekeliruannya. Pengakuan singkat itu justru memperlihatkan beban batin yang kini harus ditanggung dirinya, istri, dan anak-anaknya.
“Saya akui saya salah,” katanya lirih.
Ia juga memohon agar persoalan tersebut tidak terus diperbesar demi menjaga psikologis keluarganya.
“Malu saya, istri, dan anak-anak saya,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Meurah Mulia, Abd. Rahman, saat dimintai tanggapan terkait kabar pengunduran diri dan kemungkinan proses adat, mengaku belum menerima laporan resmi dari pihak desa.
“Waalaikumsalam, gohlom na laporan bak loen, tanyong langsoeng laju,” jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Meski demikian, polemik tersebut kini telah menjadi perhatian masyarakat setempat. Selain menunggu proses administrasi pengunduran diri, warga juga menanti langkah penyelesaian secara adat yang selama ini dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Bagi sebagian warga, kejadian itu menjadi pelajaran pahit bahwa jabatan, kehormatan, dan kepercayaan masyarakat dapat runtuh hanya dalam satu malam penuh kekhilafan.
Dan di sebuah desa kecil di Aceh Utara, sepucuk surat pengunduran diri kini menjadi penanda berakhirnya sebuah kepemimpinan yang tumbang bukan karena politik, melainkan karena badai kehidupan pribadi yang tak mampu dibendung lagi.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar